Senin, 16 November 2015
Karena aku Menyukainya
Aku menyukainya tanpa syarat.
Aku sendiri tak tahu kenapa aku menyukainya.
Aku menyukainya...
Dan itu tanpa alasan,
Kutanya kenapa aku suka, tapi tak kutemukan jawaban.
Aku menyukainya begitu saja.
Saat mata terbuka hingga kuterlelap.
Dia tanya..
Kau sangat menyukaiku?
Dan aku mengangguk pasrah..
Bukan aku yang menghendaki perasaan itu menyelinap dan bertahan disana
Bukan aku....
Tapi takdir yang mendorongku hingga terjatuh.
Dan dialah yang yang berjongkok dihadapanku, membantuku.. kemudian tersenyum sembari duduk menemaniku
Seharusnya jatuh itu sakit,
Tapi aku justru gembira. Aku tersenyum sepanjang waktu bersamanya.
Naif nya aku..
Saat dia melangkah pergi aku masih saja tersenyum, bahkan ku lambaikan tangan untuknya
Aku tak membencinya
Aku tak bisa marah padanya
Aku tak pernah mencacinya
Karena aku menyukainya..
Tanpa berharap dia akan menyukaiku selamanya...
Cukup bagiku pernah....
disukainya,
....Tertawa dengannya,
berbagi cerita bersamanya,
Terdiam disisinya.
Jumat, 16 Oktober 2015
Hukuman Tuhan Untukku
Tak mengapa,
Hukuman Tuhan kuterima
Menanggung perih rindu selamanya
Rasa ini,
Karma bagiku
Tak kau dengar...
Tak kau lihat
Tak pernah kau tahu..
Tapi menyiksaku
Rindu ini nyanyian peri
Terjebak disemak berduri
Rindu ini,
Karmaku
Selasa, 13 Oktober 2015
Biola
Senandungku sore ini,
Seperti gesekan biola diatas luka
Apa kau mendengarnya..?
Aku menyanyikan lagunya dalam irama kesepian
Kawan,
Merindumu perih nian
Memandang lukisanmu menyedihkan
Menempelkan telapak tanganku di jendela sambil berucap aku baik baik saja..
Itu naif terdengarnya...
Kawan,
Aku memanggil namamu..
Aku menyebutnya berulang dalam desau galau yang berkarat.
Kawan...
Sabtu, 10 Oktober 2015
Mereka Bagiku
Masa lalu hadir mengisi hari kiniku..
Cinta monyet..
Cinta pertama..
Cinta yang ga jelaspun menyapa..
Pemuja rahasia..
Tanpa malu mengungkapkan perasaan dulu..
Tak masalah, toh hanya masa lalu
Aku menulisnya kembali..
Mereka yang pernah melintas,
Yang pernah mengetuk pintu..
Yang pernah diam berdiri di depanku.
Seperti pasel
Satu persatu mengisi bingkai hidupku
Mereka bisa mengucapkan salam kapanpun mau..
Memberi semangat..
Kadang nasehat..
Begitulah..
Semua kini semakin mudah..
Tehnologi seperti dua mata belati,
Berguna jika bijaksana,
Menikammu jika tak waspada
Bagiku,
Mereka itu hadiah,
Aku menyimpannya..
Sesekali boleh membukanya untukku tersenyum
Kemudian menyimpannya rapi kembali di lemari..
Mereka...
Bagian dariku yang istimewa
Tuhan bukan begitu saja mengirimkannya tanpa sengaja
Dari itulah aku mensyukurinya.
Jumat, 09 Oktober 2015
Dalam Jeda
Langkahku terhenti,
Tepat setelah koma sebelum titik.
Menunggu jeda berlalu
Adakah wajah selayu rupaku?
Meniti lini kecil yang menghubungkan kisah laluku pada kenanganmu
Mungkin aku akan kehilangan jejak
Karena didepan kau sibuk menghapusnya.
.
.
.
Titik itu,...
bolehkah aku meraihnya?
Tepat setelah koma,
Waktu yang kau berikan untuk jeda
Aku ingin melompat...
Menyentuhkan ujung telunjukku dipunggungmu
Dan aku berharap kau menoleh kepadaku,
Memberiku seikat kembang dalam simpul senyumanmu..
Atau melambaikan tangan tanda perpisahan.
Aku belum menyelesaikan satu babak...
Dimana kedua tapak sepatuku rapat menunggu aku melepasnya
Menungguku melepas talinya,
Entah itu dalam tatapan haru atau tatapan sendu.
Aku akan menyelesaikan...
Berikan kesempatan aku sampai pada titik ahir cerita kita.
Entah sedih..
Entah bahagia.
Tepat setelah koma sebelum titik.
Menunggu jeda berlalu
Adakah wajah selayu rupaku?
Meniti lini kecil yang menghubungkan kisah laluku pada kenanganmu
Mungkin aku akan kehilangan jejak
Karena didepan kau sibuk menghapusnya.
.
.
.
Titik itu,...
bolehkah aku meraihnya?
Tepat setelah koma,
Waktu yang kau berikan untuk jeda
Aku ingin melompat...
Menyentuhkan ujung telunjukku dipunggungmu
Dan aku berharap kau menoleh kepadaku,
Memberiku seikat kembang dalam simpul senyumanmu..
Atau melambaikan tangan tanda perpisahan.
Aku belum menyelesaikan satu babak...
Dimana kedua tapak sepatuku rapat menunggu aku melepasnya
Menungguku melepas talinya,
Entah itu dalam tatapan haru atau tatapan sendu.
Aku akan menyelesaikan...
Berikan kesempatan aku sampai pada titik ahir cerita kita.
Entah sedih..
Entah bahagia.
Senin, 05 Oktober 2015
Malaikat
Dia terlihat
Dia tak bersayap
Dia ada menemaniku setiap saat
Dia
.
.
.
.
.
.
.
.
Menjagaku
Tersenyum padaku
.
.
-
-
.
.
Dia
Separuh hidupku
Malaikatku
Selasa, 22 September 2015
1,2,3,dan 4
Aku minta maaf untuk pagi ketika ku terlelap di bahumu.
Apa kau merasa lelah duduk dan terus menjaga kepalaku?
Aku tak ingat apapun,
Aku juga tak tahu apa kau terus terjaga atau tertidur sepertiku.
Tapi itu adalah tidur pagi terindah yang kumiliki.
Dan bangun terbahagia yang ku pernah rasakan.
Karna bersamamu...
Membuka mata dan mendengar degub jantungmu..
Membuka mata dan menemukan senyummu,..
Membuka mata dan kau menatapku...
Begitu saja cukup...
Dan aku rela jika waktu berhenti...
Ombak kaku ditepian pantai..
Matahari diam
Dan angin tak berhembus..
Begitu saja,
Bahkan jika aku harus membatu bersamamu.
Terimakasih sudah melarikan diri bersamaku.
Terimakasih ....
Satu,
Dua,
Tiga,
Empat,
Aku bukan sedang mengurut angka,
Tapi itu tanggal tanpa jeda disisimu.
Jumat, 18 September 2015
Rindu
Melihat kemuning berjatuhan di taman samping jendela
Seperti itulah kiranya sakura berguguran di penghujung musim semi
Aku ingin menengadahkan kedua telapak tangan,
Mengumpulkan kelopaknya seperti mengumpulkan serpihan hatiku yang berserakan diterbangkan angin
Aku tak bisa mengubah laut menjadi danau tenang untuk kita bersampan
Aku tak bisa menggiring angin kering ke perbatasan,
Atau menyimpan sejarah tanpa menuliskannya.
Baiklah... memang seperti itulah aku ini
Diam diam berharap kau seperti boomerang,
Setelah jauh meninggalkanku ahirnya kembali lagi
Menyapaku sehangat pagi yang diiringi kicau gelatik yang bertengger di pucuk pohon
Begitulah...
Aku rindu dirimu.
Merindukanmu sebagai sahabat yang memahamiku
Mengertilah..
Aku masih memikirkanmu sambil memandangi bunga kemuning itu.
Apakah kau akan memikirkanku juga, jika aku telah mengumpulkan seluruh kelopaknya dan kusimpan di toples kaca?
Kamis, 17 September 2015
Dear Hati
Dear Hatiku,
Aku sungguh ingin tahu, seperti apa bahagia itu buatmu?
Apa memendam duka membahagiakanmu?
Apa menyimpan perih melegakanmu?
Apa melihat orang lain bahagia cukup menggembirakanmu?
Aku tahu,
Kau mengunci sayapmu di kotak mainan berdebu.
Apa kau tak rindu?
Mengumbar tawa dititian hari yang ceria..
Sepatu ketsmu?
Jins birumu...
T shirt putih dan topi dikepalamu.
Kau melipat rapi kebebasanmu.
Membungkam mulut
Memasung langkah
Dan tersenyum seolah hidup penuh syukur adalah hakikinya bahagiamu.
Kau ingin memeluk sahabatmu satu satu..
Ingin menangis..
Menghabiskan malam didepan kayu yang dinyalakan
Tertawa seolah hari tak kan berahir
Dan kisah tak berujung kenangan..
Kau rindu menyanyi
Diiringi petikan gitar jemari panjang yang sesekali mengacak rambutmu.
Kau rindu sahabat...
Yang erat menggenggam tanganmu
Yang tertawa di depan sepiring nasi goreng yang dinikmati bersama..
Kau rindu itu...
Dan kau menyimpannya,
Membisikkan kata bahagia...
Supaya kau merasa bahagia.
Rabu, 16 September 2015
KARMA
Tak semerdu gesekan ranting bambu..
Rindu itu
Menusuk kalbu
Menghimpit,
Menyesakkan,
Menyakiti tanpa luka
KARMA
Aku telah melukisnya,
Di bentangan kanvas
Perih rindu tak terbalas
Aku menggantungnya
Serpihan kesepianku
Di paku berkarat yang berdiam pada pilar dipinggir jalan
Serpihan itu
Menatapku
Menertawai
Sinis mempermainkanku
Merindumu
Karma bagiku
.
.
.
.
.
RINDU ITU KARMA BAGIKU
Senin, 14 September 2015
Maaf
Dia menyukaiku...
Pria kecil itu....
Sahabatku, adikku..
Aku menyimpan selembar kertas putih bertuliskan namanya dan namaku dari tinta merahnya pergelangan tangan yang tersayat...
Ngilu rasanya jika aku mengingat itu...
Dia menyukaiku...
Dan itu salahku, karena aku memberi celah untuk dia menyelinap masuk dan membuat mural didalam hatiku... kemudian ku abaikan.
.....Kau menganggapku anak kecil,
Tapi akulah yang akan mengobati sedih dan sakitmu.....
Itu yang dia ucapkan.
Mendengarnya membuatku merasa lebih sakit dari apapun yang pernah aku rasakan.
Maaf,
Aku ini penjahat bukan?
Sudah membiarkanmu menatapku berjalan bersama orang lain,
Tersenyum disisinya..
Berpaling,
kemudian melambaikan tangan kepadamu dengan gembira.
Aku ini tak berhati...
Mengacak rambutmu dan tertawa.
Bisa jadi itu sangat melukaimu...
Aku ini kenapa?
Berbaring di sisimu, menatap bintang.
Saling diam dengan pikiran masing masing.
Bukan romantis...
Bahkan hatimu mungkin menangis.
Maaf...
Untuk sebuah maaf,
Pantaskah aku mengucapkannya?
Jumat, 11 September 2015
Bumi tanpa Rembulan
Aku melihat remang cahaya bulan mengapung diatas awan,
Aku melihatnya... dalam pandanganku yang berat oleh air mata yang menggenang.
Angin larut malam menyapaku hingga ke palung terdalam hatiku, menyentuh dengan lembutnya kemudian mencengkeram...
Aku masih menatapnya, bulan yang makin meremang..
Dibalkon ditemani nyanyian punguk dikejauhan.
Hatiku sesak kawan,
Kehilanganmu membuatku seperti bumi ditinggalkan rembulan.
.
Kamis, 10 September 2015
Kemarin untuk hari ini
Aku bercerita tentang kemarin seolah waktu tak bergerak,
diam.. seperti bandul jam rusak.
Aku bercerita tentang kemarin....
Seperti hari ini tak pernah ada,
Atau hari ini sirna ditelan lubang besar dihutan belantara..
Benarkah kemarin itu ada?
Aku terus saja memikirkan kemarin,
Meskipun ku tahu,
Kemarin hanyalah kumpulan prosa tanpa judul..
Tanpa sampul...
Tergeletak di persimpangan jalan yang riuh oleh jejak sepatu
Dilupakan oleh teriakan dan gaduh persoalan
Kemarin...
hanyalah tumpukan kertas kertas yang hampir lepas
Menunggu angin menghempasnya kemanapun dia suka.
Hilang tanpa perhatian..
Dan tertunduk dalam senyum sinis manusia yang kehilangan jiwa
Aku selalu bercerita tentang kemarin
Tenggelam dalam kemarin
Tertawa untuk kemarin,
Dan menagisi kemarin...
Hingga lelahku hari ini.
Senin, 31 Agustus 2015
Antara Blok M dan Bekasi (kisah membosankan part 2)
Aku menyimpan pagi ketika rumput rumput masih basah oleh kabut sisa semalam.
Langkahku tergesa,
Semoga dan semoga kau masih bertahan menungguku disana.
Untung saja metromini yang mengantarku, melaju dengan cepatnya..
Syukurlah...
Aku tersenyum sambil terengah berlari menaiki puluhan anak tangga.
Blok M menyapaku ceria..
Masih sepi...
Cahaya di langit masih redup.
Kau ada di mana?
Pandanganku menyapu bus bus yang berjajar rapi menunggu penumpang
Ahirnya aku menemukanmu juga..
Mengembangkan senyuman untukku.
Ah.. syukurlah...
Lagi lagi aku merasa lega..
Hanya dengan disampingmu,
Hanya karena disisimu,
Hanya karena kau mau tersenyum,
Hanya karena kau masih menyapaku..
Aku merasa teramat bersyukur..
Aku tak tahu..
Bisa jadi nanti ketika kau pergi aku akan merasa hilang
Seperti bangku kayu ditaman tanpa sandaran,..
Atau seperi pot jalanan tanpa tanaman.
Aku akan kesepian...
Sendiri dan terabaikan.
Bis kota mengantar kita
Aku memejamkan mata...
Cukup bagiku lenganmu hangat menyentuh sisi lenganku.
Cukup rasanya menyandarkan kepala di pundakmu.
Dan lebih dari cukup waktu melihatmu tersenyum padaku di depan semangkuk bubur hangat yang kita pesan.
Bahagia itu sederhana ternyata.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Jalan Panjang
Kenapa bulan malam itu tak nampak? Padahal kita sedang mengukur jalan diatas kegelisahan.
Aku memasukkan tanganku didalam saku jaketku. Begitupun kamu.
Berdua kita seperti kehilangan arah,..
Begitu sulitkah kau melewati masamu hai dua anak muda?
Kau tertawa disampingku, tersenyum padaku, dan mulai membuka pintu supaya aku masuk. Aku memandangimu, berpikir bahwa disisimu aku bisa menghirup kabut, menggenggam malam, dan merangkum perjalanan menjadi kisah
Sebelas malam, ketika jiwa jiwa mulai masuk keperaduan..
Jiwa kita melompat menyisir aspal dikegelapan.
Itulah malam pertama kalinya aku bersandar padamu.
Kau itu kesepian, aku tahu... maka aku akan mengisi kekosongan hatimu. Terserah kau jadikan aku apa.
Sahabat, teman, kekasih, atau orang bodoh yang akan kau manfaatkan.
Kau kesepian,
Sikap introvertmu membuatku memahamimu..
Karena kita hampir serupa.
Sesungguhnya aku tengah letih menunggu,
Dan kau adalah doa yang dikabulkan Tuhan bagiku.
Sudah pagi sobat...
Lihatlah langit semburat merah...
Pedagang sudah pulang dari pasar siap menggelar dagangan di warungnya.
Kita masih terus melangkah
Apa kau tak lelah?
Disisimu aku tak kan menyerah hanya karena lelah.
Sejauh apapun kau membawaku aku akan disisimu.. tersenyum untukmu.
Hingga kau bilang, ayo kita pulang...
Masih terlalu pagi,
Mikrolet masih sepi,
Kau disisiku.. kali ini kau yang bersandar padaku.
Teruslah bersandar,
Dunia tak akan peduli terhadap kita.
Aku yang akan memahamimu, dan kalau kau mau aku yang akan menjagamu.
Aku memasukkan tanganku didalam saku jaketku. Begitupun kamu.
Berdua kita seperti kehilangan arah,..
Begitu sulitkah kau melewati masamu hai dua anak muda?
Kau tertawa disampingku, tersenyum padaku, dan mulai membuka pintu supaya aku masuk. Aku memandangimu, berpikir bahwa disisimu aku bisa menghirup kabut, menggenggam malam, dan merangkum perjalanan menjadi kisah
Sebelas malam, ketika jiwa jiwa mulai masuk keperaduan..
Jiwa kita melompat menyisir aspal dikegelapan.
Itulah malam pertama kalinya aku bersandar padamu.
Kau itu kesepian, aku tahu... maka aku akan mengisi kekosongan hatimu. Terserah kau jadikan aku apa.
Sahabat, teman, kekasih, atau orang bodoh yang akan kau manfaatkan.
Kau kesepian,
Sikap introvertmu membuatku memahamimu..
Karena kita hampir serupa.
Sesungguhnya aku tengah letih menunggu,
Dan kau adalah doa yang dikabulkan Tuhan bagiku.
Sudah pagi sobat...
Lihatlah langit semburat merah...
Pedagang sudah pulang dari pasar siap menggelar dagangan di warungnya.
Kita masih terus melangkah
Apa kau tak lelah?
Disisimu aku tak kan menyerah hanya karena lelah.
Sejauh apapun kau membawaku aku akan disisimu.. tersenyum untukmu.
Hingga kau bilang, ayo kita pulang...
Masih terlalu pagi,
Mikrolet masih sepi,
Kau disisiku.. kali ini kau yang bersandar padaku.
Teruslah bersandar,
Dunia tak akan peduli terhadap kita.
Aku yang akan memahamimu, dan kalau kau mau aku yang akan menjagamu.
Rabu, 26 Agustus 2015
Wanita itu
Apa kamu melihat seorang wanita?
Dia seorang diri duduk di bawah pohon rindang,
pandangannya lurus ke tanah lapang.
Apa kamu melihatnya??
Wanita itu melintas dipadang ilalang,
membiarkan angin membelai rambutnya,
Sementara langit mulai menjingga..
Dia juga berada di atas jembatan,
slayernya melayang diantara kabut yang mulai turun menjamah tanggul tanggul beton irigasi
Dingin diacuhkannya...
Dia diam memeluk kenangan...
Memandangi lagi di atas riak kecil dua bayangan yang kemudian menghilang..
Apa kamu juga melihatnya??
Disuatu malam bertudung langit gelap
Wanita itu merapatkan lutut didadanya...
Kali ini dia berbisik pada gemintang..
Heii kau yang disana... tak peduli berapa jauhnya engkau, doaku selalu kupanjatkan agar kau bahagia..
Apa kau melihat??
Dia memintalnya,
Hati yang terberai
Menyulamnya,
Perasaan yang koyak dan terluka
Membingkainya,
Kenangan pahit yang harusnya disingkirkannya
Mengemasnya,
Menjadi bingkisan hidup yang penuh makna
Wanita itu......
Menghias perasaannya dengan keikhlasan.
Supaya kau tak khawatir..
Agar kau tak bersedih.
Selebihnya dia berharap di lupakan.
Jika itu membuat perasaanmu nyaman.
Wanita itu rela kau tinggalkan.
Tulus meski kau abaikan.
Dia...
Wanita itu..
Selasa, 25 Agustus 2015
Apakah ini Surga
Aku terjaga di suatu ketika,
Saat kubuka mataku ku temukan tubuhku terbaring di kasur tebal dengan sprei hangat, licin dan lembut berwarna gading tua. Kelambunya juga terbuat dari bahan yang sama dengan warna senada.
Aku di mana?
Perlahan aku bangun dan menyibak kelambu yang rapat menutup peraduanku.
Aku.....
Sungguh tak bisa di rangkai dengan kata kata...
Kelambuku ada di pinggir jalan panjang yang lengang, di depanku lembah landai nan tenang. Dan dihadapanku membentang langit luas dengan kerlip bintang yang luar biasa memesona. Bahkan kabut susu terpampang jelas diantaranya.
Ini dimana?
Aku berada dimana..?
Langit terlihat seolah sangat dekat. Tidak terang tapi juga tak gelap. Udara sejuk, tidak dingin dan tak berangin. Aku sendirian tapi tak merasa takut dan khawatir.
Tempat apakah ini?
Setelah cukup aku memandang langit, aku merasa ingin turun ke lembah. Dari depan kelambuku aku bisa melihat rumah besar beratap rendah, bercahayakan lampu kuning keemasan yang dibingkai pintu pintu dan jendela.
Aku menuruninya... melewati anak tangga.
Dan sebelum memasuki ruangan , di depan beranda terdapat batas marmer yang dialiri air bening yang sejuk membasuh kaki.
Setibanya di pintu, terlihat anak anak gadis berkerudung sedang bercengkrama di ruangan. Sebagian membaca kitab,..
Sebagian lagi tersenyum padaku dan memberi salam.
Apakah ini surga?
Senin, 24 Agustus 2015
kidung
Dengarkan kidung yang mengisi malam sunyi
Bulan merambat,
Menerangi ruang ruang kosong
Membelah pekat
Menyibak awan yang mengambang bak selendang
Dan nadanya menjalar liar
Dengar kidung itu,
Lelaplah kalian dalam senandungnya
Simpanlah rahasia rahasiamu sampai esok
Tutup rapat buku harianmu
Ijinkan sukmamu menari diiringi nyanyiannya
Gamelan dimainkan di lorong tak berujung
Dalam khidmad
Dalam senyap
Entah berapa waktu detak jam tua menunggu
Seonggok tubuh luruh memeluk takdirnya
Genang disudut mata diseka segera
Dalam sunyi,
Dalam hening,
Isak tangisnya dibungkam
Luka luka dibalutnya diam diam.
Bersama kidung,
perih dunia dikunci rapat didada
Lara hati disulamnya
Dia harus bangun
suka tidak suka
Jumat, 21 Agustus 2015
Ikhlas Terluka
Karena menyayangmu,
Aku tersenyum,
Duniaku ceria,
Aku bahagia,
Bersyukur sepanjang waktu,
Tenang...
Bersemangat,
Dunia itu indah,
Sunyi bukan berarti kesepian,
Malam adalah puisi,
Bintang itu syair,
Angin yang berhembus menjadi buaian.
Karena menyayangmu,
Duniaku menjadi beda
Aku percaya takdir,
Aku menikmati perjalanan, dan
Aku tak merasa khawatir
Karena menyayangmu,
Kau tinggalkan bukan penyesalan
Kau abaikan tidak menjadikanku merana
Karena menyayangmu,
Bahagiaku kalau kau bahagia
Sedihku bukan berarti benci
Lukaku tak mengubah apa apa
Karena aku menyayangmu
Dibawah hujan ku tumpahkan air mata,
Hingga ketika reda hanya senyum yang kupunya.
Karena menyayangmulah, aku ikhlas terluka.
Sungguh...
Aku ikhlas terluka.
Selasa, 18 Agustus 2015
Seperti ini Cinta
Diantara candi candi, sepatu ketsku berpijak mencari jejak.
Diantara candi candi semesta menyapa seolah hidup bukan hanya bingkisan yang rapi tersimpan di kotak kaca tanpa sentuhan,
Diantara candi candi pandanganku menyapu sepanjang lembah,
Dimana kau?
Langit begitu cerah dan angin ramah mengusap wajah..
Aku ada disini,
diantara candi candi
Diantara keramaian
Blits blits menyala,
Dan kau tiada..
Tiba tiba gerimis turun,
Langit begitu birunya..
Entah mengapa.. rintik hujan menyapa
Anak anak berlarian,
berlindung
Menepi dari hangat gerimis yang terjamah matahari
Tapi tidak denganku..
Kuturuni lembah..
Kususuri setapak berpagar ilalang
Mencarimu...
Tak peduli topi dan backpack kecilku sedikit basah
Aku ingin melihatmu.
Benar juga,
Gerimis hanya sementara
Sampai di tanah lapang gerimis mereda
Anak anak banyak berkumpul duduk membuat lingkaran
Mataku mencarimu..
Dan ahirnya aku menemukannya
Kau, juga tengah mencariku sepertinya..
Aku terpaku
Seperti biasa kau tak tersenyum,
Tapi aku tahu
Kau lega karena menemukanku
Kau kembali dengan teman temanmu
Dan aku memandangi punggungmu dari kejauhan
Cinta itu hanya seperti ini ternyata
Saling khawatir
Saling memikirkan
Saling memperhatikan,
Tapi saling diam.
Senin, 17 Agustus 2015
bicara kemerdekaan
Beri aku waktu sejenak,
Diatas dipan bambu, dikelilingi pucuk pucuk pinus yang ujungnya menggandul embun yang siap jatuh..
Bukankah waktu tidak mau mengalah atas masalah kita?
Mari kita berdamai saja..
Mengukir senyum diantara banyak kumpulan bunga..
Dan kuncup mawar yang menanti waktunya bemekaran.
Aku belum akan beranjak..
Hidup terlalu singkat untuk mengeluh..
Dan angin tak mau menunggu untuk menebarkan wangi cemara seperti yang kau minta..
Diatas dipan aku perhatikan..
Senyuman mendamaikan membuatku kalah, mau tak mau membalasnya..
Mari kita lupakan amarah..
Lupakan kebencian..
Merangkum cinta dan bersandar pada kasih Nya..
Tuhan maha peduli,
Mari kita saling bergandeng tangan untuk berbagi..
Tuhan maha simpati,
Jangan lagi saling mencaci..
Untukku, untukmu.. di hari mengenang sejarah kemerdekaan.. stop peperangan!
Cintai negri dengan menjadi pribadi tanpa benci..
Embun di ujung cemara berjatuhan...
Negriku.. tunggu kami..
Minggu, 09 Agustus 2015
Aku, Kau, Akasia,
Aku masih berdiri di bawah pohon akasia itu, saat kulihat kau dan rombonganmu melangkah menuju halte. Kemudian berdiri sambil masih berdiskusi.
Sebegitu penting dirimu kini..Tiga wanita dan satu pria canggung yang berubah memesona.
Kau memang tak banyak bicara, tapi terlihat betul rekan - rekan kerjamu memperhatikan setiap apa yang keluar dari ucapanmu.
Kau terlihat berbeda...
Mikrolet merah yang kutunggu sudah tiba,aku segera masuk kedalamnya.. Kulihat kau masih berdiskusi.
Mungkin kita memang tak ditakdirkan searah lagi,...
Kau bukan sedang menunggu angkutan umum ini kan?
Sudah beberapa hari ini kau naik mobil kantor, atau nebeng mobil keren punya bosmu?
Pergi ke tempat- tempat baru untuk urusan kerjaan yang ahir ahir ini menyibukkanmu...sehingga melupakanku...
Melupakan kita sering berbagi cerita di mikrolet yang sekarang kutumpangi sendirian ini..
Aku tersenyum pada ujung sepatu ketsku yang berdebu...
Tiba- tiba saja kau dan rombonganmu menyerbu.
Dan kau duduk persis di hadapanku.
Haruskah aku pura- pura tak mengenalmu?
Kau menatapku.. aku tak kuasa untuk itu.
Hai..
Ahirnya aku menyapamu, setelah hampir dua minggu saling diam.
Jangan khawatir, aku tak akan mempermalukanmu..sampai disini saja percakapan kita....
Teman- temanmu itu memperhatikanku, ya.. rekan rekanmu sekantormu...
mungkin aku terlihat aneh untuk mereka.
Aneh....karena aku mengenalmu.
Ya Kau.....Orang keren baru...
Maaf,
Ucapku lirih dan aku memilih turun dari tempat dudukku. Aku tak akan mengganggumu. Dan aku tak ingin kau merasa kurang nyaman dengan keberadaanku.
Aku memilih berjalan,
Aku..
Gadis bertopi biru yang kau acuhkan ini memilih berlalu,
Menyandang tas punggung, dan membiarkan angin membelai rambutku.
Biarlah debu menyapa jins ku,
Biarlah matahari mengiringi langkahku.
Aku tak mau memikirkanmu lagi,
Aku tak mau terluka karenanya..
Daun - daun akasia berguguran diterbangkan angin sore kota kecil yang segera ingin kutinggalkan. Aku tak bicara lagi tentang perasaan, aku tak mau bicara lagi tentang hati. Karena hati hanyalah ruang kecil yang bisa kukemas dalam kertas kado dan lalu ku simpan di laci lemariku. Atau mungkin cukup kuremas dan kuonggokkan di sudut kamarku...
Baru aku ingin menutup kisahku itu, aku merasakan seseorang berlari dibelakangku. Sedikit ter engah, kemudian meraih jariku.. menariknya seolah- olah aku ini pelarian darinya.
Aku tidak berlari darimu? Aku hanya ingin kau nyaman tanpaku... ucapku.
Dan dia tak berkata apapun,
Apa kau malu berteman denganku?
Aku menatapnya..dia sama sekali tak perpaling memperhatikanku..
Hanya menguatkan jemarinya..
Kita akan kemana?
Kau akan membawaku kemana???
Ini adalah duniaku.. yang bertemu dengan duniamu.
Seperti matahari sore yang bertemu dengan debu yang beterbangan.
Aku akan terus ada, dan kau tetap akan bersinar teduh menunggu senja menjemputmu.
Bagiku tak masalah,...
Kau memperhatikanku atau tidak, aku akan terus saja berbembus lagi dan kembali lagi sekuat apapun aku ingin menghindar.
Lagi... dan lagi....
Kita sudah melewati akasia - akasia di sepanjang jalan, ... menuju bukit penuh bunga disekelilingnya, menapaki jalan kecil yang berumput hijau... mendaki gunung dan menghirup aroma cemara, melalui jalan berbatu dan menyibak ilalang...
Menyeberangi jembatan bambu yang dibawahnya mengalir sungai nan bening..
Aku kau...
Mau kemana lagi kita?
Sejauh apa kau ingin membawaku.. ??
Sepanjang apa kau akan menuntunku..???
Hingga gelap menjemput petang..
Kau akan membawaku kemana??
Aku masih terus bertanya..
Dan langit semakin pekat..
Aku tak bisa melihatmu lagi kini...
Aku tak bisa memandangmu.
Aku tak tau apa kau tersenyum atau marah padaku...
Hanya saja aku masih merasakan telapak tanganmu hangat menggenggamku.
Kau sungguh tak terlihat lagi kini...
Tapi aku yakin kau disisiku..
Aku yakin kau menjagaku......
...........................................................................................................
Minggu, 02 Agustus 2015
Bunga rumput liar
Anggrek?
Mawar?
Atau Edelweiss?
Kau tanya mana yang kusuka?
Aku menjawabnya
"bukan itu semua..."
Karena aku tak melihat mereka di dalam diriku.
Aku tak se exlusive anggrek,
Semewah mawar,
Atau seabadi edelweiss.
Aku hanya Dandelion...
Bunga rumput liar yang pasrah takdirnya mengikuti terbangnya angin..
Aku ini hanya bunga rumput liar..
Kau Bintang, Aku Kunang Kunang
Entahlah,
Mungkin ini tak bermakna apa apa..
Tapi bagiku kau adalah bintang.
Dan mungkin aku bagimu hanyalah kunang- kunang.
Gelembung Sabun
Ditaman yang indah itu, anak - anak bermain, tertawa dengan ceria. Dan aku memperhatikannya seolah mengenang masa kecil yang kurang bahagia.
Bunga -bunga bermekaran warna warni.
Dan air kolam jernih dengan ikan ikan kecil yang berenang kesana kemari.
Aku menatap langit...
Biru dan cerah.
Awan tipis melambaikan tangannya untukku yang tengah berayun di ayunan besi dibawah pohon sakura tua.
Bukankah hidup ini begitu indah??
Baru aku memulai menikmati damai duniaku,
tiba tiba gelembung sabun menyerbuku.
Entah darimana asalnya..
Mereka ringan dan berkeliling ke segala penjuru.
Sejenak aku terpaku,
Aku melihat wajah itu di permukaan nya.
DIA..... di semua gelembung yang mengitariku.
Dan dia tersenyum manis.
Membuatku terkesima untuk beberapa waktu,
Kenapa kau ada disini...?
Untuk menemaniku atau untuk mengoyak lagi kenanganku?
Pandanganku berkeliling mencarinya diantara gelembung yang masih beterbangan, tapi nihil.
Tak ada satupun orang disini.
Hanya taman indah yang kesepian.
Anak anak yang tadi riuh, juga entah dimana.
Kemana mereka?
Beberapa saat kemudian gelembung sabun itu hilang satu satu...
Terlihat seperti kenangan yang hadir tak diundang, kemudian mengejutkanku karena pergi dengan segera.
Aku masih tertegun, Darimana asalnya gelembung tadi?
Apakah aku bermimpi?
Kemana perginya kenangan itu?
kenapa kini hanya menyisakan satu gelembung besar yang tersenyum menatapku.?
Kau kah itu?
Ada diantara bias warna warni indah permukaannya...
Aku bangkit dari dudukku dan ingin menyentuhnya,
tapi sunguh itu membuatku takut.
Gelembung ini terlalu rapuh,
Dan pasti senyummu akan segera sirna setelah aku menyentuhnya.
Seperti itukah dirimu?
Hanya gelembung sabun bagiku.
Seperti itukah?
Hadir sesaat,...
Dan kemudian aku harus ikhlas ditinggalkannya.
Tepat ketika aku mengucapkan kalimat itu, gelembung tersebut meletus persis di depan wajahku.
Meninggalkan banyak tanda tanya untukku...
Meninggalkan ku sendiri disebuah taman yang kesepian.
Sabtu, 25 Juli 2015
Hujan di sore yang cerah
"Dan..
Dan bila esok
Datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa tertawa
Dan
Perlahan kau pun
Lupakan aku
Mimpi burukmu
Dimana tlah kutancapkan duri tajam
Kau pun menangis
Menangis sedih
Maafkan aku..
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar seperti waktu dulu
Caci maki saja diriku
Tonjok saja diriku..
Bukan magsudku...
Akupun terluka dalam"
Aku bukan sedang menyanyi waktu itu..
Tapi aku membaca selembar kertas yang diantarkan langsung oleh penulisnya.
Jam 2 pagi, tertulis disudut atas suratnya.
Itu artinya dia tak bisa tidur, dan sungguh ingin menumpahkan kegelisahannya.
Memang bencana terjadi semalam.
Ketika cinta nya meminta bersua dengan sahabat buruk yang di cintanya juga.
Itu masalahmu anak muda..
Tapi buatku itu bukan masalah apa apa.
Bahkan aku tak memikirkannya.
Karena aku tahu pasti, hal ini bisa saja terjadi.
Sore itu, kebetulan aku punya janji
Dan naik bus lain, bukan karena hal yang terjadi malam itu.
Tapi janji bertemu teman sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya.
Bukan karena aku melarikan diri atau ingin menenangkan perasaan.
Bukaaan..
Aku duduk sendiri di kursi belakang,
Bus kecil itu masih lengang. Dan dia datang memandangku dengan sangat sangat dalam. Terus terang aku agak kaget di buatnya. Bagaimana dia bisa tahu aku disini?
Dia bilang maaf dan memberikan sepucuk surat untukku.
Lyric DAN itulah pembukaan nya..
Aku membacanya saat itu juga, dan tiba - tiba hujan turun di sore yang cerah.
Entah mengapa air mataku tak mau berhenti menetes. Aku menghapusnya, dan dia mengalir lagi... seperti hujan dimusim kemarau. Bening dan hangat...
"Bukan magsudku melukaimu.. Akupun terluka.. terluka dalam. Maafkan aku.."
Kalimat itu yang menurunkan HUJAN DI SORE YANG CERAH.
Minggu, 12 Juli 2015
sepasang sepatu dan sendok garpu episode 2
Jam setengah dua siang..
Aku berdiri di depan papan schedule,
Ini hari terahirku training, tapi aku belum menemukan kakak trainee supervisor yg biasanya tak pernah jauh dariku itu..
Apa dia libur?
Aku melihat namanya..
Oooh... harusnya dia masuk jam sepuluh hari ini, tapi aku belum melihatnya..
Aku masih didepan papan schedule, waktu seseorang mengagetkanku dan bilang..
Hayoo.. lagi cek jadwalku yaa...
Sungguh, aku beneran kagett.. sendok itu ada di sampingku dengan setumpuk kertas laporan di dadanya.
Iih.. ngga sih.. ucapku.
Hari ini aku sengaja tuker schedulle, aku udah dateng dari jam tujuh tadi. Nanti aku pulang jam tiga. Kan ini hari terahirmu disini, nanti pulang aku anter yaa..
Oia, sorry aku sibuk.. nih banyak laporan yang harus ku selesaikan. Ucapnya, trus dia masuk gudang sebelum aku menjawab apa apa..
Dia lenyap begitu saja, garpu ini entah mengapa tiba tiba merasa lega dan gembira. Meskipun kali ini sendok itu hilang di dalam gudang, tapi dia memperhatikan bahwa si garpu ini, cuma sampai hari ini ada disini..
Jam tiga lewat sedikit, kakak itu menghampiriku setelah absen pulang.
Dia bilang..
Aku tunggu di depan ya. sambil jarinya mengisyaratkan ke arah pintu samping, biasa anak anak keluar kalau pulang.
Cuma itu dan aku mengangguk.
Jam 4 sore,
Setelah berpamitan dengan senior senior, kita se shift ahirnya keluar dr ruangan kerja kami.
Aku inget, pesan kakak itu, didepan ya....!!
Dan aku melihat sekeliling dinning room...
Mana??
Dia ga ada...
Sebelum benar benar pergi aku masih melihat ke belakang, tapi dia tidak ada...
Sudahlah...
Ahirnya aku berlari bergabung dengan teman teman yang lain yang sudah ada di depan, kita mampir dulu melihat lihat keria an. Dan berhenti melihat konser musik. Saat itu ada syahrul gunawan.
Hampir jam 6,
Aku ahirnya keluar sendirian karena temen -temen beda tujuan,
dan begitu aku keluar melewati parkiran, seseorang memanggilku..
Aku melihatnya berdiri menunggu.
Dia....
Kakak itu..
Tersenyum meskipun menungguku begitu lama...
Ternyata ini yang dimagsudnya "Di depan..".
Aku tertegun, dia lebih keren tanpa seragam.
Dan dia tampak sangat kerenn karena dia mau menungguku.
Dia sungguh menungguku.
Di senja yang menjingga...
Sepasang sendok garpu satu bus bersama.
.
.
.
.
Oktober 1996
.... adakalanya sepasang sendok garpu akan terpisah karena suatu hal, mungkin tertinggal di suatu tempat. Atau ada yang hanya menyukai sendok sehingga garpunya di abaikan begitu saja dilemari penyimpanan....
menunggu
Disebrang jalan itu, tanpa ragu aku menunggu..
Tak peduli knalpot menyemburkan abu,
Dan angin yang berjuang menggoyahkan kepercayaanku..
Lama berlalu..
.
.
.
.
Menit terlewati..
Lampu merah silih berganti,
Tapi tak mungkin aku beranjak dari sini..
Kau berjanji,
Disini... sore nanti..
Aku mengangguk
Kau tersenyum manis..
Kenapa hingga kini kau belum terlihat?
Matahari sudah begitu condongnya,
Sebentar lagi gelap...
Apa aku harus lupa bahwa kau membuat tanda untukku menunggumu ditempat ini..?
Tas punggungku semakin berat,
Langit semakin gelisah menjemput bintang,
Ujung sepatuku berdebu..
Aku akan terus menunggu..
Tak mengapa kalau ahirnya aku harus membatu.
Sejam berlalu..
Apa peduliku dengan waktu
Berapa lamapun akan kutunggu..
Karna kau...
Karna...
Aku percaya kau bisa kupercaya.
.
.
.
.
Dan..
Ahirnya..
Aku melihat siluet itu menujuku..
Kau..
Pangeranku
...
Aku yakin, sulit untukmu melarikan diri bersamaku
Bersembunyi dari pengawal yang terus mengawasimu
Dan benteng tinggi yang menghalangi..
Berdua kita
Meninggalkan pandangan pandangan
Meninggalkan aturan,
Tersesat adalah tujuan..
1,2,3,4 Des 2000.
Senin, 29 Juni 2015
januari
Aku ditemani januari yang membeku di ujung senja..
Hujan yang mereda menyambut kita di persimpangan..
Tawamu rapat tekunci..
Bulir bulir air sisa hujan terjebak di ujung daun, enggan bergerak meski angin menghembus menggoyang dahan..
Aku lah ini..
Memandangimu yang membisu selangkah di depanku,
Samar raga menghilang..
Jadi seperti inikah.. waktu mengantar kita...
Bukan...
Seperti ini mungkin waktu mengantarku...
Di perbatasan..
Di belakang ombak masih mengoyak koyak kenangan..
Ketika pandangan kita menyatu di satu titik tenggelamnya matahari ...
Cahayanya sendu...
Seperti tatapanmu kala itu...
Tapi kini,
Januari membatu dengan coretan yang menyakitkan untuk dibaca..
Kau di depanku seperti lukisan pudar
Dan aku hanya bayangan kelabu yang mengiringimu
Kau diam,
Dan aku kehilangan suara..
Sabtu, 27 Juni 2015
Suatu malam yang ganjil
Malam itu, ketika semua terlelap dalam kematian sementara,
Jiwa jiwa dibelenggu dan di ikat di tiang tiang pancang dipelataran rumah mereka..
Aku hanya sendiri menengadah ke langit.
Menatap bulan yang hening menyungging senyum dikelilingi peri yang berkelip dikejauhan
Air mataku berderai,
Kesunyian merobek dengkulku hingga sulit untukku angkuh menantang temaram di cakarawala..
Tersedu aku dalam perih yang sontak mencengkeram dada,
Aku ini siapa??
Aku mungkin saja hanya sajak yang terbungkus kertas buram dan dibiarkan berselimut debu..
Atau mungkin hanya lukisan usang yang dipaku di dinding tanpa pigura..
Angin mempermainkan rambutku...
Menjambaknya dan menyeretku secepat kilat menuju lapangan luas tak berpenghuni...
Aku sendiri kini...
Semakin terlihat kecil dan semakin tak berarti...
Malam itu..
Ketika semua terlelap..
Aku terjaga penuh air mata..
Jiwa jiwa dibelenggu dan di ikat di tiang tiang pancang dipelataran rumah mereka..
Aku hanya sendiri menengadah ke langit.
Menatap bulan yang hening menyungging senyum dikelilingi peri yang berkelip dikejauhan
Air mataku berderai,
Kesunyian merobek dengkulku hingga sulit untukku angkuh menantang temaram di cakarawala..
Tersedu aku dalam perih yang sontak mencengkeram dada,
Aku ini siapa??
Aku mungkin saja hanya sajak yang terbungkus kertas buram dan dibiarkan berselimut debu..
Atau mungkin hanya lukisan usang yang dipaku di dinding tanpa pigura..
Angin mempermainkan rambutku...
Menjambaknya dan menyeretku secepat kilat menuju lapangan luas tak berpenghuni...
Aku sendiri kini...
Semakin terlihat kecil dan semakin tak berarti...
Malam itu..
Ketika semua terlelap..
Aku terjaga penuh air mata..
Senin, 22 Juni 2015
Pangrango and the memory
Suatu ketika di Pangrango
Kabut menjebak kami untuk berkumpul,
Seperti laron yang tertarik cahaya petromak,
Kamipun merapat mencari hangat di depan dua balok kayu yang menyala...
Diammu disisiku tak membuatku menyerah
Aku sudah cukup lama bersabar, dan aku tak kan berhenti hanya karena kau tak peduli
Bertahanlah dengan acuhmu..
Karena itu ke unikan mu
Kalau kau ramah,
Kalau kau pasrah,
Kalau kau lemah terhadapku,
Kau tak tak kan terlihat menarik bagiku..
Pagi sebentar lagi,...
Teman2 yang lain bercengkrama di warung menikmati secangkir kopi atau segelas bandrek panas
Tiba tiba saja kau bilang sambil menoleh ke arahku
Mau ke atas?
Aku menatapmu aneh, sejak kapan kau berfikir untuk mengajakku jalan berdua?
Oh, jangan - jangan dia bukan hanya mengajakku saja...
Buru buru kukemasi rasa senangku.
Mau ga??
.... aku??
Aku masih ga percaya.. dan dia sudah lebih dulu melangkah..
Tentu saja aku mengikutinya dengan senang hati..
Langkahku riang, seperti biasa...
Dia tiga meter di depanku..
Akupun bersemangat, memulai sebuah PERJALANAN
Ternyata sebagai orang gunung, baru kali ini aku mengagumi panorama gunung
Langit terlihat biru pekat..
Dan tanah yang menjulang di sekitarku berwarna biru muda..
Sangat kontras..
Kabutpun jelas putih seperti kapas yang ditebar di sepanjang lembah..
Persis seperti lukisan..
Seperti bisa disentuh..
Seperti nyata..
Seperti di dunia yang berbeda..
Sejenak aku melupakannya..
Pria biasa saja yang berjalan di depan itu..
Yang beberapa minggu ini menarik perhatianku... Ya,..mungkin sejak aku pertama mengenalnya,
Yang wajahnya tidak berbeda apa dia baru habis mandi atau baru bangun dari tidur..
Dia orang yang tak peduli denganku,
sementara teman teman yang lain menjagaku seperti aku ini seorang putri.. dia malah mengabaikanku
Tak ada kesempatan untukku berharap dia memakukan tatapan di wajahku.
Menyebalkan memang...
Tapi dia tampak istimewa..
Aku menghentikan langkahku, dikananku jurang..
Saat langit berubah semburat, semakin jelas terlihat tebing yang menjulang di hadapanku..
Pepohonan nan rimbun, dan sesekali terlihat kera kecil melompat dari cabang satu ke cabang lainnya..
Aku sungguh tak merasa takut.. justru itu memesona
Aku ingin lebih lama lagi di sini..
Baru aku mengambil nafas dan ingin menyatu dengan alam, seseorang menarik pergelangan tanganku..
Ayo turun.. nanti yang lain mencari kita..
OoOh.. pria itusudah di sampingku kini..
Dan aku hanya bisa ikut,
Terseret dengan gembira dibelakangnya
Aku menuruni jalan setapak itu
Meski terhalang jaketku, aku bisa merasakan telapak tangannya terasa hangat di pergelanganku
Aku tahu...
Aku tahu...
Dia bukan sedang tertarik denganku
Dia hanya menjagaku..
Mungkin sedikit peduli denganku..
Iyaa..
Cuma sedikit...
Dia De
#pangrango 18 tahun silam.>>>1997
Kabut menjebak kami untuk berkumpul,
Seperti laron yang tertarik cahaya petromak,
Kamipun merapat mencari hangat di depan dua balok kayu yang menyala...
Diammu disisiku tak membuatku menyerah
Aku sudah cukup lama bersabar, dan aku tak kan berhenti hanya karena kau tak peduli
Bertahanlah dengan acuhmu..
Karena itu ke unikan mu
Kalau kau ramah,
Kalau kau pasrah,
Kalau kau lemah terhadapku,
Kau tak tak kan terlihat menarik bagiku..
Pagi sebentar lagi,...
Teman2 yang lain bercengkrama di warung menikmati secangkir kopi atau segelas bandrek panas
Tiba tiba saja kau bilang sambil menoleh ke arahku
Mau ke atas?
Aku menatapmu aneh, sejak kapan kau berfikir untuk mengajakku jalan berdua?
Oh, jangan - jangan dia bukan hanya mengajakku saja...
Buru buru kukemasi rasa senangku.
Mau ga??
.... aku??
Aku masih ga percaya.. dan dia sudah lebih dulu melangkah..
Tentu saja aku mengikutinya dengan senang hati..
Langkahku riang, seperti biasa...
Dia tiga meter di depanku..
Akupun bersemangat, memulai sebuah PERJALANAN
Ternyata sebagai orang gunung, baru kali ini aku mengagumi panorama gunung
Langit terlihat biru pekat..
Dan tanah yang menjulang di sekitarku berwarna biru muda..
Sangat kontras..
Kabutpun jelas putih seperti kapas yang ditebar di sepanjang lembah..
Persis seperti lukisan..
Seperti bisa disentuh..
Seperti nyata..
Seperti di dunia yang berbeda..
Sejenak aku melupakannya..
Pria biasa saja yang berjalan di depan itu..
Yang beberapa minggu ini menarik perhatianku... Ya,..mungkin sejak aku pertama mengenalnya,
Yang wajahnya tidak berbeda apa dia baru habis mandi atau baru bangun dari tidur..
Dia orang yang tak peduli denganku,
sementara teman teman yang lain menjagaku seperti aku ini seorang putri.. dia malah mengabaikanku
Tak ada kesempatan untukku berharap dia memakukan tatapan di wajahku.
Menyebalkan memang...
Tapi dia tampak istimewa..
Aku menghentikan langkahku, dikananku jurang..
Saat langit berubah semburat, semakin jelas terlihat tebing yang menjulang di hadapanku..
Pepohonan nan rimbun, dan sesekali terlihat kera kecil melompat dari cabang satu ke cabang lainnya..
Aku sungguh tak merasa takut.. justru itu memesona
Aku ingin lebih lama lagi di sini..
Baru aku mengambil nafas dan ingin menyatu dengan alam, seseorang menarik pergelangan tanganku..
Ayo turun.. nanti yang lain mencari kita..
OoOh.. pria itusudah di sampingku kini..
Dan aku hanya bisa ikut,
Terseret dengan gembira dibelakangnya
Aku menuruni jalan setapak itu
Meski terhalang jaketku, aku bisa merasakan telapak tangannya terasa hangat di pergelanganku
Aku tahu...
Aku tahu...
Dia bukan sedang tertarik denganku
Dia hanya menjagaku..
Mungkin sedikit peduli denganku..
Iyaa..
Cuma sedikit...
Dia De
#pangrango 18 tahun silam.>>>1997
Selasa, 26 Mei 2015
sahabat yang hilang.. Kris
Kris..
Aku mencarimu..
Aku terus saja kehilanganmu..
Satu satu sahabat hadir membingkai senyum,
tapi tak lengkap tanpamu..
Kris,
Begitu misteriusnya kamu..
Aku menunggu..
Hadirlah dihadapanku..
Atau berikan isyarat bahwa kau ada..
Sahabat pertamaku..
Aku merindumu..
Ingin membagi cerita,
Perihnya hidup dan indahnya dunia..
Tangis yang kutahan,
Bahagiaku,
Orang orang yang mengisi hidupku..
Perjalananku..
Duniaku...
Aku juga ingin mendengar lukamu, jika kau pernah terluka...
Atau gembiramu..
Aku ingin melihat senyummu..
Dan juga menghapus air mata sedih dan bahagiamu..
Aku ingin melihat duniamu..
Kris, aku menunggu waktu itu datang,
Memelukmu dalam keharuan..
Menjadikanmu sahabat pertama dan selamanya..
>>> krisia <<<
Aku mencarimu..
Aku terus saja kehilanganmu..
Satu satu sahabat hadir membingkai senyum,
tapi tak lengkap tanpamu..
Kris,
Begitu misteriusnya kamu..
Aku menunggu..
Hadirlah dihadapanku..
Atau berikan isyarat bahwa kau ada..
Sahabat pertamaku..
Aku merindumu..
Ingin membagi cerita,
Perihnya hidup dan indahnya dunia..
Tangis yang kutahan,
Bahagiaku,
Orang orang yang mengisi hidupku..
Perjalananku..
Duniaku...
Aku juga ingin mendengar lukamu, jika kau pernah terluka...
Atau gembiramu..
Aku ingin melihat senyummu..
Dan juga menghapus air mata sedih dan bahagiamu..
Aku ingin melihat duniamu..
Kris, aku menunggu waktu itu datang,
Memelukmu dalam keharuan..
Menjadikanmu sahabat pertama dan selamanya..
>>> krisia <<<
Kamis, 21 Mei 2015
aku ingin kau jadi teman
Jadilah temanku,
Disisiku dan jadi penyemangatku
Di,
Aku bersyukur karena kita dulu tak pernah bertegur sapa.
Karena itu kau tampak sempurna..
Aku juga bersyukur karena dulu kau pernah mengulurkan tanganmu sekali,
Untung cuma sekali...
karena kalau kau meraih tanganku berkali kali bisa jadi lambaianmu meninggalkan luka untukku..
Tolong Di, jadilah temanku..
Disisiku dan jadi penyemangatku
Jagalah aku sebagai kawan yang kau hormati
Kau sudah sempurna,
Seperti ini saja..
Mengawali pagi dengan mendengar salammu,
Mendengarkan kabarmu sembari tersenyum,
Melihat kau bahagia,
Dan aku disini memanjatkan doa...
Terimakasih sudah menjadikan beliaku punya cerita
Terimakasih sudah mengingatku
Terimakasih Di..
220515
Disisiku dan jadi penyemangatku
Di,
Aku bersyukur karena kita dulu tak pernah bertegur sapa.
Karena itu kau tampak sempurna..
Aku juga bersyukur karena dulu kau pernah mengulurkan tanganmu sekali,
Untung cuma sekali...
karena kalau kau meraih tanganku berkali kali bisa jadi lambaianmu meninggalkan luka untukku..
Tolong Di, jadilah temanku..
Disisiku dan jadi penyemangatku
Jagalah aku sebagai kawan yang kau hormati
Kau sudah sempurna,
Seperti ini saja..
Mengawali pagi dengan mendengar salammu,
Mendengarkan kabarmu sembari tersenyum,
Melihat kau bahagia,
Dan aku disini memanjatkan doa...
Terimakasih sudah menjadikan beliaku punya cerita
Terimakasih sudah mengingatku
Terimakasih Di..
220515
Selasa, 05 Mei 2015
Hidup menurutku
Hidup ini dimulai dari perjalanan...
Juga pada saat kita melangkah untuk kemudian bertemu dengan takdir.
Tahukah engkau... tidak ada yg serta merta terjadi dalam kehidupan kita, karena keserta mertaan itu sendiri adalah takdir Nya.
Aku,kau, mereka.. menemukan jalannya masing masing dalam melewati batas, melompati terjal dan memandang kenyataan yg terhampar di masa lalu dan kini.
Dalam keniscayaan dan dalam ketidakberhasilan.
Itulah yg di sebut hidup.
Saat harapan dan asa jadi penghias langkah, saat itulah kita bisa melihat awan.. memandang langit biru.. dan menyentuh cakrawala .. kemudian berlari dengan ringan. Bersemangat menggapainya. itulah masa muda kita...
Teman, sahabat, kawan, saudara.. saling bergandengan menjalin kisah jadi sejarah.
Dan ketika masa tua menghampiri.. merekalah kenangan yg tertata rapi dalam diary...
Ikhlaskan takdirmu kawan, jadi apapun kita.. itu sudah suratan Nya..
Juga pada saat kita melangkah untuk kemudian bertemu dengan takdir.
Tahukah engkau... tidak ada yg serta merta terjadi dalam kehidupan kita, karena keserta mertaan itu sendiri adalah takdir Nya.
Aku,kau, mereka.. menemukan jalannya masing masing dalam melewati batas, melompati terjal dan memandang kenyataan yg terhampar di masa lalu dan kini.
Dalam keniscayaan dan dalam ketidakberhasilan.
Itulah yg di sebut hidup.
Saat harapan dan asa jadi penghias langkah, saat itulah kita bisa melihat awan.. memandang langit biru.. dan menyentuh cakrawala .. kemudian berlari dengan ringan. Bersemangat menggapainya. itulah masa muda kita...
Teman, sahabat, kawan, saudara.. saling bergandengan menjalin kisah jadi sejarah.
Dan ketika masa tua menghampiri.. merekalah kenangan yg tertata rapi dalam diary...
Ikhlaskan takdirmu kawan, jadi apapun kita.. itu sudah suratan Nya..
Langganan:
Postingan (Atom)