Minggu, 09 Agustus 2015

Aku, Kau, Akasia,



Aku masih berdiri di bawah pohon akasia itu, saat kulihat kau dan rombonganmu melangkah menuju halte. Kemudian berdiri sambil masih berdiskusi.
Sebegitu penting dirimu kini..Tiga wanita dan satu pria canggung yang berubah memesona.
Kau memang tak banyak bicara, tapi terlihat betul rekan - rekan kerjamu memperhatikan setiap apa yang keluar dari ucapanmu.
Kau terlihat berbeda...

Mikrolet merah yang kutunggu sudah tiba,aku segera masuk kedalamnya.. Kulihat kau masih berdiskusi.
Mungkin kita memang tak ditakdirkan searah lagi,...
Kau bukan sedang menunggu angkutan umum ini kan?
Sudah beberapa hari ini kau naik mobil kantor, atau nebeng mobil keren punya bosmu?
Pergi ke tempat- tempat baru untuk urusan kerjaan yang ahir ahir ini menyibukkanmu...sehingga melupakanku...
Melupakan kita sering berbagi cerita di mikrolet yang sekarang kutumpangi sendirian ini..

Aku tersenyum pada ujung sepatu ketsku yang berdebu...

Tiba- tiba saja kau dan rombonganmu menyerbu.
Dan kau duduk persis di hadapanku.
Haruskah aku pura- pura tak mengenalmu?

Kau menatapku.. aku tak kuasa untuk itu.

Hai..
Ahirnya aku menyapamu, setelah hampir dua minggu saling diam.
Jangan khawatir, aku tak akan mempermalukanmu..sampai disini saja percakapan kita....
Teman- temanmu itu memperhatikanku, ya.. rekan rekanmu sekantormu...
mungkin aku terlihat aneh untuk mereka.
 Aneh....karena aku mengenalmu.
Ya Kau.....Orang keren baru...

Maaf,
Ucapku lirih dan aku memilih turun dari tempat dudukku. Aku tak akan mengganggumu. Dan aku tak ingin kau merasa kurang nyaman dengan keberadaanku.

Aku memilih berjalan,

Aku..

Gadis bertopi biru yang kau acuhkan ini memilih berlalu,
Menyandang tas punggung, dan membiarkan angin membelai rambutku.
Biarlah debu menyapa jins ku,
Biarlah matahari mengiringi langkahku.
Aku tak mau memikirkanmu lagi,
Aku tak mau terluka karenanya..

Daun - daun akasia berguguran diterbangkan angin sore kota kecil yang segera ingin kutinggalkan. Aku tak bicara lagi tentang perasaan, aku tak mau bicara lagi tentang hati. Karena hati hanyalah ruang kecil yang bisa kukemas dalam kertas kado dan lalu ku simpan di laci lemariku. Atau mungkin cukup kuremas dan kuonggokkan di sudut kamarku...

Baru aku ingin menutup kisahku itu,  aku merasakan seseorang berlari dibelakangku. Sedikit ter engah, kemudian meraih jariku.. menariknya seolah- olah aku ini pelarian darinya.
Aku tidak berlari darimu? Aku hanya ingin kau nyaman tanpaku... ucapku.
Dan dia tak berkata apapun,
Apa kau malu berteman denganku?
Aku menatapnya..dia sama sekali tak perpaling memperhatikanku..
Hanya menguatkan jemarinya..

Kita akan kemana?
Kau akan membawaku kemana???

Ini adalah duniaku.. yang bertemu dengan duniamu.
Seperti matahari sore yang bertemu dengan debu yang beterbangan.
Aku akan terus ada, dan kau tetap akan bersinar teduh menunggu senja menjemputmu.
Bagiku tak masalah,...
Kau memperhatikanku atau tidak, aku akan terus saja berbembus lagi dan kembali lagi sekuat apapun aku ingin menghindar.
Lagi... dan lagi....

Kita sudah melewati akasia - akasia di sepanjang jalan, ... menuju bukit penuh bunga disekelilingnya, menapaki jalan kecil yang berumput hijau... mendaki gunung dan menghirup aroma cemara, melalui jalan berbatu dan menyibak ilalang...
Menyeberangi jembatan bambu yang dibawahnya mengalir sungai nan bening..

Aku kau...
Mau kemana lagi kita?
Sejauh apa kau ingin membawaku.. ??
Sepanjang apa kau akan menuntunku..???

Hingga gelap menjemput petang..
Kau akan membawaku kemana??
Aku masih terus bertanya..


Dan langit semakin pekat..
Aku tak bisa melihatmu lagi kini...
Aku tak bisa memandangmu.
Aku tak tau apa kau tersenyum atau marah padaku...
Hanya saja aku masih merasakan telapak tanganmu hangat menggenggamku.

Kau sungguh tak terlihat lagi kini...
Tapi aku yakin kau disisiku..
Aku yakin kau menjagaku......





...........................................................................................................





Tidak ada komentar:

Posting Komentar