Selasa, 22 September 2015

1,2,3,dan 4



Aku minta maaf untuk pagi ketika ku terlelap di bahumu.

Apa kau merasa lelah duduk dan terus menjaga kepalaku?


Aku tak ingat apapun,
Aku juga tak tahu apa kau terus terjaga atau tertidur sepertiku.
Tapi itu adalah tidur pagi terindah yang kumiliki.
Dan bangun terbahagia yang ku pernah rasakan.
Karna bersamamu...

Membuka mata dan mendengar degub jantungmu..
Membuka mata dan menemukan senyummu,..
Membuka mata dan kau menatapku...

Begitu saja cukup...
Dan aku rela jika waktu berhenti...
Ombak kaku ditepian pantai..
Matahari diam
Dan angin tak berhembus..

Begitu saja,
Bahkan jika aku harus membatu bersamamu.

Terimakasih sudah melarikan diri bersamaku.

Terimakasih ....

Satu,
Dua,
Tiga,
Empat,

Aku bukan sedang mengurut angka,
Tapi itu tanggal tanpa jeda disisimu.



Jumat, 18 September 2015

Rindu


Melihat kemuning berjatuhan di taman samping jendela
Seperti itulah kiranya sakura berguguran di penghujung musim semi
Aku ingin menengadahkan kedua telapak tangan,
Mengumpulkan kelopaknya seperti mengumpulkan serpihan hatiku yang berserakan diterbangkan angin

Aku tak bisa mengubah laut menjadi danau tenang untuk kita bersampan
Aku tak bisa menggiring angin kering ke perbatasan, 
Atau menyimpan sejarah tanpa menuliskannya.

Baiklah... memang seperti itulah aku ini
Diam diam berharap kau seperti boomerang, 
Setelah jauh meninggalkanku ahirnya kembali lagi
Menyapaku sehangat pagi yang diiringi kicau gelatik yang bertengger di pucuk pohon

Begitulah...
Aku rindu dirimu.
Merindukanmu sebagai sahabat yang memahamiku

Mengertilah..
Aku masih memikirkanmu sambil memandangi bunga kemuning itu.

Apakah kau akan memikirkanku juga, jika aku telah mengumpulkan seluruh kelopaknya dan kusimpan di toples kaca?







Kamis, 17 September 2015

Dear Hati



Dear Hatiku,

Aku sungguh ingin tahu, seperti apa bahagia itu buatmu?
Apa memendam duka membahagiakanmu?
Apa menyimpan perih melegakanmu?
Apa melihat orang lain bahagia cukup menggembirakanmu?

Aku tahu,
Kau mengunci sayapmu di kotak mainan berdebu.
Apa kau tak rindu?
Mengumbar tawa dititian hari yang ceria..
Sepatu ketsmu?
Jins birumu...
T shirt putih dan topi dikepalamu.

Kau melipat rapi kebebasanmu.
Membungkam mulut
Memasung langkah
Dan tersenyum seolah hidup penuh syukur adalah hakikinya bahagiamu.

Kau ingin memeluk sahabatmu satu satu..
Ingin menangis..
Menghabiskan malam didepan kayu yang dinyalakan
Tertawa seolah hari tak kan berahir
Dan kisah tak berujung kenangan..

Kau rindu menyanyi
Diiringi petikan gitar jemari panjang yang sesekali mengacak rambutmu.

Kau rindu sahabat...
Yang erat menggenggam tanganmu
Yang tertawa di depan sepiring nasi goreng yang dinikmati bersama..

Kau rindu itu...

Dan kau menyimpannya,

Membisikkan kata bahagia...
Supaya kau merasa bahagia.

Rabu, 16 September 2015

KARMA



Tak semerdu gesekan ranting bambu..
Rindu itu
Menusuk kalbu
Menghimpit,
Menyesakkan,
Menyakiti tanpa luka

KARMA

Aku telah melukisnya,
Di bentangan kanvas
Perih rindu tak terbalas

Aku menggantungnya
Serpihan kesepianku
Di paku berkarat yang berdiam pada pilar dipinggir jalan


Serpihan itu
Menatapku
Menertawai
Sinis mempermainkanku

Merindumu
Karma bagiku

.
.
.
.
.


RINDU ITU KARMA BAGIKU

Senin, 14 September 2015

Maaf




Dia menyukaiku...
Pria kecil itu....
Sahabatku, adikku..

Aku menyimpan selembar kertas putih bertuliskan namanya dan namaku dari tinta merahnya pergelangan tangan yang tersayat...
Ngilu rasanya jika aku mengingat itu...

Dia menyukaiku...
Dan itu salahku, karena aku memberi celah untuk dia menyelinap masuk dan membuat mural didalam hatiku... kemudian ku abaikan.

.....Kau menganggapku anak kecil,
Tapi akulah yang akan mengobati sedih dan sakitmu.....

Itu yang dia ucapkan.
Mendengarnya membuatku merasa lebih sakit dari apapun yang pernah aku rasakan.

Maaf,

Aku ini penjahat bukan?
Sudah membiarkanmu menatapku berjalan bersama orang lain,
Tersenyum disisinya..
Berpaling,
kemudian melambaikan tangan kepadamu dengan gembira.

Aku ini tak berhati...
Mengacak rambutmu dan tertawa.
Bisa jadi itu sangat melukaimu...

Aku ini kenapa?
Berbaring di sisimu, menatap bintang.
Saling diam dengan pikiran masing masing.
Bukan romantis...
Bahkan hatimu mungkin menangis.

Maaf...

Untuk sebuah maaf,
Pantaskah aku mengucapkannya?








Jumat, 11 September 2015

Bumi tanpa Rembulan



Aku melihat remang  cahaya bulan mengapung diatas awan,
Aku melihatnya... dalam pandanganku yang berat oleh air mata yang menggenang.
Angin larut malam menyapaku hingga ke palung terdalam hatiku, menyentuh dengan lembutnya kemudian mencengkeram...

Aku masih menatapnya, bulan yang makin meremang..
Dibalkon ditemani nyanyian punguk dikejauhan.

Hatiku sesak kawan,
Kehilanganmu membuatku seperti bumi ditinggalkan rembulan.








.

Kamis, 10 September 2015

Kemarin untuk hari ini



Aku bercerita tentang kemarin seolah waktu tak bergerak,
     diam.. seperti bandul jam rusak.

Aku bercerita tentang kemarin....
Seperti hari ini tak pernah ada,
Atau hari ini sirna ditelan lubang besar dihutan belantara..

Benarkah kemarin itu ada?
Aku terus saja memikirkan kemarin,
Meskipun ku tahu,
Kemarin hanyalah kumpulan prosa tanpa judul..
   Tanpa sampul...
Tergeletak di persimpangan jalan yang riuh oleh jejak sepatu
  Dilupakan oleh teriakan dan gaduh persoalan

Kemarin...
hanyalah tumpukan kertas kertas yang hampir lepas
Menunggu angin menghempasnya kemanapun dia suka.
Hilang tanpa perhatian..
Dan tertunduk dalam senyum sinis manusia yang kehilangan jiwa

Aku selalu bercerita tentang kemarin
Tenggelam dalam kemarin
Tertawa untuk kemarin,
Dan menagisi kemarin...

Hingga lelahku hari ini.