Senin, 29 Juni 2015
januari
Aku ditemani januari yang membeku di ujung senja..
Hujan yang mereda menyambut kita di persimpangan..
Tawamu rapat tekunci..
Bulir bulir air sisa hujan terjebak di ujung daun, enggan bergerak meski angin menghembus menggoyang dahan..
Aku lah ini..
Memandangimu yang membisu selangkah di depanku,
Samar raga menghilang..
Jadi seperti inikah.. waktu mengantar kita...
Bukan...
Seperti ini mungkin waktu mengantarku...
Di perbatasan..
Di belakang ombak masih mengoyak koyak kenangan..
Ketika pandangan kita menyatu di satu titik tenggelamnya matahari ...
Cahayanya sendu...
Seperti tatapanmu kala itu...
Tapi kini,
Januari membatu dengan coretan yang menyakitkan untuk dibaca..
Kau di depanku seperti lukisan pudar
Dan aku hanya bayangan kelabu yang mengiringimu
Kau diam,
Dan aku kehilangan suara..
Sabtu, 27 Juni 2015
Suatu malam yang ganjil
Malam itu, ketika semua terlelap dalam kematian sementara,
Jiwa jiwa dibelenggu dan di ikat di tiang tiang pancang dipelataran rumah mereka..
Aku hanya sendiri menengadah ke langit.
Menatap bulan yang hening menyungging senyum dikelilingi peri yang berkelip dikejauhan
Air mataku berderai,
Kesunyian merobek dengkulku hingga sulit untukku angkuh menantang temaram di cakarawala..
Tersedu aku dalam perih yang sontak mencengkeram dada,
Aku ini siapa??
Aku mungkin saja hanya sajak yang terbungkus kertas buram dan dibiarkan berselimut debu..
Atau mungkin hanya lukisan usang yang dipaku di dinding tanpa pigura..
Angin mempermainkan rambutku...
Menjambaknya dan menyeretku secepat kilat menuju lapangan luas tak berpenghuni...
Aku sendiri kini...
Semakin terlihat kecil dan semakin tak berarti...
Malam itu..
Ketika semua terlelap..
Aku terjaga penuh air mata..
Jiwa jiwa dibelenggu dan di ikat di tiang tiang pancang dipelataran rumah mereka..
Aku hanya sendiri menengadah ke langit.
Menatap bulan yang hening menyungging senyum dikelilingi peri yang berkelip dikejauhan
Air mataku berderai,
Kesunyian merobek dengkulku hingga sulit untukku angkuh menantang temaram di cakarawala..
Tersedu aku dalam perih yang sontak mencengkeram dada,
Aku ini siapa??
Aku mungkin saja hanya sajak yang terbungkus kertas buram dan dibiarkan berselimut debu..
Atau mungkin hanya lukisan usang yang dipaku di dinding tanpa pigura..
Angin mempermainkan rambutku...
Menjambaknya dan menyeretku secepat kilat menuju lapangan luas tak berpenghuni...
Aku sendiri kini...
Semakin terlihat kecil dan semakin tak berarti...
Malam itu..
Ketika semua terlelap..
Aku terjaga penuh air mata..
Senin, 22 Juni 2015
Pangrango and the memory
Suatu ketika di Pangrango
Kabut menjebak kami untuk berkumpul,
Seperti laron yang tertarik cahaya petromak,
Kamipun merapat mencari hangat di depan dua balok kayu yang menyala...
Diammu disisiku tak membuatku menyerah
Aku sudah cukup lama bersabar, dan aku tak kan berhenti hanya karena kau tak peduli
Bertahanlah dengan acuhmu..
Karena itu ke unikan mu
Kalau kau ramah,
Kalau kau pasrah,
Kalau kau lemah terhadapku,
Kau tak tak kan terlihat menarik bagiku..
Pagi sebentar lagi,...
Teman2 yang lain bercengkrama di warung menikmati secangkir kopi atau segelas bandrek panas
Tiba tiba saja kau bilang sambil menoleh ke arahku
Mau ke atas?
Aku menatapmu aneh, sejak kapan kau berfikir untuk mengajakku jalan berdua?
Oh, jangan - jangan dia bukan hanya mengajakku saja...
Buru buru kukemasi rasa senangku.
Mau ga??
.... aku??
Aku masih ga percaya.. dan dia sudah lebih dulu melangkah..
Tentu saja aku mengikutinya dengan senang hati..
Langkahku riang, seperti biasa...
Dia tiga meter di depanku..
Akupun bersemangat, memulai sebuah PERJALANAN
Ternyata sebagai orang gunung, baru kali ini aku mengagumi panorama gunung
Langit terlihat biru pekat..
Dan tanah yang menjulang di sekitarku berwarna biru muda..
Sangat kontras..
Kabutpun jelas putih seperti kapas yang ditebar di sepanjang lembah..
Persis seperti lukisan..
Seperti bisa disentuh..
Seperti nyata..
Seperti di dunia yang berbeda..
Sejenak aku melupakannya..
Pria biasa saja yang berjalan di depan itu..
Yang beberapa minggu ini menarik perhatianku... Ya,..mungkin sejak aku pertama mengenalnya,
Yang wajahnya tidak berbeda apa dia baru habis mandi atau baru bangun dari tidur..
Dia orang yang tak peduli denganku,
sementara teman teman yang lain menjagaku seperti aku ini seorang putri.. dia malah mengabaikanku
Tak ada kesempatan untukku berharap dia memakukan tatapan di wajahku.
Menyebalkan memang...
Tapi dia tampak istimewa..
Aku menghentikan langkahku, dikananku jurang..
Saat langit berubah semburat, semakin jelas terlihat tebing yang menjulang di hadapanku..
Pepohonan nan rimbun, dan sesekali terlihat kera kecil melompat dari cabang satu ke cabang lainnya..
Aku sungguh tak merasa takut.. justru itu memesona
Aku ingin lebih lama lagi di sini..
Baru aku mengambil nafas dan ingin menyatu dengan alam, seseorang menarik pergelangan tanganku..
Ayo turun.. nanti yang lain mencari kita..
OoOh.. pria itusudah di sampingku kini..
Dan aku hanya bisa ikut,
Terseret dengan gembira dibelakangnya
Aku menuruni jalan setapak itu
Meski terhalang jaketku, aku bisa merasakan telapak tangannya terasa hangat di pergelanganku
Aku tahu...
Aku tahu...
Dia bukan sedang tertarik denganku
Dia hanya menjagaku..
Mungkin sedikit peduli denganku..
Iyaa..
Cuma sedikit...
Dia De
#pangrango 18 tahun silam.>>>1997
Kabut menjebak kami untuk berkumpul,
Seperti laron yang tertarik cahaya petromak,
Kamipun merapat mencari hangat di depan dua balok kayu yang menyala...
Diammu disisiku tak membuatku menyerah
Aku sudah cukup lama bersabar, dan aku tak kan berhenti hanya karena kau tak peduli
Bertahanlah dengan acuhmu..
Karena itu ke unikan mu
Kalau kau ramah,
Kalau kau pasrah,
Kalau kau lemah terhadapku,
Kau tak tak kan terlihat menarik bagiku..
Pagi sebentar lagi,...
Teman2 yang lain bercengkrama di warung menikmati secangkir kopi atau segelas bandrek panas
Tiba tiba saja kau bilang sambil menoleh ke arahku
Mau ke atas?
Aku menatapmu aneh, sejak kapan kau berfikir untuk mengajakku jalan berdua?
Oh, jangan - jangan dia bukan hanya mengajakku saja...
Buru buru kukemasi rasa senangku.
Mau ga??
.... aku??
Aku masih ga percaya.. dan dia sudah lebih dulu melangkah..
Tentu saja aku mengikutinya dengan senang hati..
Langkahku riang, seperti biasa...
Dia tiga meter di depanku..
Akupun bersemangat, memulai sebuah PERJALANAN
Ternyata sebagai orang gunung, baru kali ini aku mengagumi panorama gunung
Langit terlihat biru pekat..
Dan tanah yang menjulang di sekitarku berwarna biru muda..
Sangat kontras..
Kabutpun jelas putih seperti kapas yang ditebar di sepanjang lembah..
Persis seperti lukisan..
Seperti bisa disentuh..
Seperti nyata..
Seperti di dunia yang berbeda..
Sejenak aku melupakannya..
Pria biasa saja yang berjalan di depan itu..
Yang beberapa minggu ini menarik perhatianku... Ya,..mungkin sejak aku pertama mengenalnya,
Yang wajahnya tidak berbeda apa dia baru habis mandi atau baru bangun dari tidur..
Dia orang yang tak peduli denganku,
sementara teman teman yang lain menjagaku seperti aku ini seorang putri.. dia malah mengabaikanku
Tak ada kesempatan untukku berharap dia memakukan tatapan di wajahku.
Menyebalkan memang...
Tapi dia tampak istimewa..
Aku menghentikan langkahku, dikananku jurang..
Saat langit berubah semburat, semakin jelas terlihat tebing yang menjulang di hadapanku..
Pepohonan nan rimbun, dan sesekali terlihat kera kecil melompat dari cabang satu ke cabang lainnya..
Aku sungguh tak merasa takut.. justru itu memesona
Aku ingin lebih lama lagi di sini..
Baru aku mengambil nafas dan ingin menyatu dengan alam, seseorang menarik pergelangan tanganku..
Ayo turun.. nanti yang lain mencari kita..
OoOh.. pria itusudah di sampingku kini..
Dan aku hanya bisa ikut,
Terseret dengan gembira dibelakangnya
Aku menuruni jalan setapak itu
Meski terhalang jaketku, aku bisa merasakan telapak tangannya terasa hangat di pergelanganku
Aku tahu...
Aku tahu...
Dia bukan sedang tertarik denganku
Dia hanya menjagaku..
Mungkin sedikit peduli denganku..
Iyaa..
Cuma sedikit...
Dia De
#pangrango 18 tahun silam.>>>1997
Langganan:
Postingan (Atom)