Sabtu, 25 Juli 2015

Hujan di sore yang cerah


"Dan..
Dan bila esok
Datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa tertawa
Dan
Perlahan kau pun
Lupakan aku
Mimpi burukmu
Dimana tlah kutancapkan duri tajam
Kau pun menangis
Menangis sedih
Maafkan aku..

Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar seperti waktu dulu
Caci maki saja diriku
Tonjok saja diriku..

Bukan magsudku...
Akupun terluka dalam"




Aku bukan sedang menyanyi waktu itu..
Tapi aku membaca selembar kertas yang diantarkan langsung oleh penulisnya.

Jam 2 pagi, tertulis disudut atas suratnya.
Itu artinya dia tak bisa tidur, dan sungguh ingin menumpahkan kegelisahannya.

Memang bencana terjadi semalam.
Ketika cinta nya meminta bersua dengan sahabat buruk yang di cintanya juga.
Itu masalahmu anak muda..

Tapi buatku itu bukan masalah apa apa.
Bahkan aku tak memikirkannya.
Karena aku tahu pasti, hal ini bisa saja terjadi.


Sore itu, kebetulan aku punya janji
Dan naik bus lain, bukan karena hal yang terjadi malam itu.
Tapi janji bertemu teman sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya.
Bukan karena aku melarikan diri atau ingin menenangkan perasaan.
Bukaaan..

Aku duduk sendiri di kursi belakang,
Bus kecil itu masih lengang. Dan dia datang memandangku dengan sangat sangat dalam. Terus terang aku agak kaget di buatnya. Bagaimana dia bisa tahu aku disini?
Dia bilang maaf dan memberikan sepucuk surat untukku.
Lyric DAN itulah pembukaan nya..

Aku membacanya saat itu juga, dan tiba - tiba hujan turun di sore yang cerah.
Entah mengapa air mataku tak mau berhenti menetes. Aku menghapusnya, dan dia mengalir lagi... seperti hujan dimusim kemarau. Bening dan hangat...






"Bukan magsudku melukaimu.. Akupun terluka.. terluka dalam. Maafkan aku.."

Kalimat itu yang menurunkan HUJAN DI SORE YANG CERAH.













Minggu, 12 Juli 2015

sepasang sepatu dan sendok garpu episode 2



Jam setengah dua siang..
Aku berdiri di depan papan schedule,

Ini hari terahirku training, tapi aku belum menemukan kakak trainee supervisor yg biasanya tak pernah jauh dariku itu..
Apa dia libur?
Aku melihat namanya..
Oooh... harusnya dia masuk jam sepuluh hari ini, tapi aku belum melihatnya..

Aku masih didepan papan schedule, waktu seseorang mengagetkanku dan bilang..

Hayoo.. lagi cek jadwalku yaa...

Sungguh, aku beneran kagett.. sendok itu ada di sampingku dengan setumpuk kertas laporan di dadanya.

Iih.. ngga sih.. ucapku.

Hari ini aku sengaja tuker schedulle, aku udah dateng dari jam tujuh tadi. Nanti aku pulang jam tiga. Kan ini hari terahirmu disini, nanti pulang aku anter yaa..
Oia, sorry aku sibuk.. nih banyak laporan yang harus ku selesaikan. Ucapnya, trus dia masuk gudang sebelum aku menjawab apa apa..

Dia lenyap begitu saja, garpu ini entah mengapa tiba tiba merasa lega dan gembira. Meskipun kali ini sendok itu hilang di dalam gudang, tapi dia memperhatikan bahwa si garpu ini, cuma sampai hari ini ada disini..





Jam tiga lewat sedikit, kakak itu menghampiriku setelah absen pulang.
Dia bilang..
Aku tunggu di depan ya. sambil jarinya mengisyaratkan ke arah pintu samping, biasa anak anak keluar kalau pulang.
Cuma itu dan aku mengangguk.

Jam 4 sore,
Setelah berpamitan dengan senior senior, kita se shift ahirnya keluar dr ruangan kerja kami.

Aku inget, pesan kakak itu, didepan ya....!!
Dan aku melihat sekeliling dinning room...
Mana??
Dia ga ada...
Sebelum benar benar pergi aku masih melihat ke belakang, tapi dia tidak ada...
Sudahlah...

Ahirnya aku berlari bergabung dengan teman teman yang lain yang sudah ada di depan, kita mampir dulu melihat lihat keria an. Dan berhenti melihat konser musik. Saat itu ada syahrul gunawan.

Hampir jam 6,
Aku ahirnya keluar sendirian karena temen -temen beda tujuan,
dan begitu aku keluar melewati parkiran, seseorang memanggilku..

Aku melihatnya berdiri menunggu.
Dia....
Kakak itu..
Tersenyum meskipun menungguku begitu lama...
Ternyata ini yang dimagsudnya "Di depan..".
 Aku tertegun, dia lebih keren tanpa seragam.
Dan dia tampak sangat kerenn karena dia mau menungguku.

Dia sungguh menungguku.


Di senja yang menjingga...
Sepasang sendok garpu satu bus bersama.
.
.
.
.
Oktober 1996


.... adakalanya sepasang sendok garpu akan terpisah karena suatu hal, mungkin tertinggal di suatu tempat. Atau ada yang hanya menyukai sendok sehingga garpunya di abaikan begitu saja dilemari penyimpanan....



menunggu



Disebrang jalan itu, tanpa ragu aku menunggu..
Tak peduli knalpot menyemburkan abu,
Dan angin yang berjuang menggoyahkan kepercayaanku..

Lama berlalu..
.
.
.
.


Menit terlewati..
Lampu merah silih berganti,
Tapi tak mungkin aku beranjak dari sini..

Kau berjanji,
Disini... sore nanti..
Aku mengangguk
Kau tersenyum manis..

Kenapa hingga kini kau belum terlihat?
Matahari sudah begitu condongnya,
Sebentar lagi gelap...
Apa aku harus lupa bahwa kau membuat tanda untukku menunggumu ditempat ini..?

Tas punggungku semakin berat,
Langit semakin gelisah menjemput bintang,
Ujung sepatuku berdebu..
Aku akan terus menunggu..
Tak mengapa kalau ahirnya aku harus membatu.

Sejam berlalu..

Apa peduliku dengan waktu
Berapa lamapun akan kutunggu..
Karna kau...

Karna...

Aku percaya kau bisa kupercaya.

.
.
.
.

Dan..
Ahirnya..
Aku melihat siluet itu menujuku..

Kau..
Pangeranku
 ...

Aku yakin, sulit untukmu melarikan diri bersamaku
Bersembunyi dari pengawal yang terus mengawasimu
Dan benteng tinggi yang menghalangi..

Berdua kita
Meninggalkan pandangan pandangan
Meninggalkan aturan,
Tersesat adalah tujuan..

1,2,3,4 Des 2000.