Senin, 31 Agustus 2015

Antara Blok M dan Bekasi (kisah membosankan part 2)



Aku menyimpan pagi ketika rumput rumput masih basah oleh kabut sisa semalam.
Langkahku tergesa,
Semoga dan semoga kau masih bertahan menungguku disana.

Untung saja metromini yang mengantarku, melaju dengan cepatnya..
Syukurlah...
Aku tersenyum sambil terengah berlari menaiki puluhan anak tangga.

Blok M menyapaku ceria..
Masih sepi...
Cahaya di langit masih redup.
Kau ada di mana?

Pandanganku menyapu bus bus yang berjajar rapi menunggu penumpang
Ahirnya aku menemukanmu juga..
Mengembangkan senyuman untukku.
Ah.. syukurlah...
Lagi lagi aku merasa lega..

Hanya dengan disampingmu,
Hanya karena disisimu,
Hanya karena kau mau tersenyum,
Hanya karena kau masih menyapaku..
Aku merasa teramat bersyukur..

Aku tak tahu..
Bisa jadi nanti ketika kau pergi aku akan merasa hilang
Seperti bangku kayu ditaman tanpa sandaran,..
Atau seperi pot jalanan tanpa tanaman.
Aku akan kesepian...
Sendiri dan terabaikan.

Bis kota mengantar kita
Aku memejamkan mata...
Cukup bagiku lenganmu hangat menyentuh sisi lenganku.
Cukup rasanya menyandarkan kepala di pundakmu.


Dan lebih dari cukup waktu melihatmu tersenyum padaku di depan semangkuk bubur hangat yang kita pesan.

Bahagia itu sederhana ternyata.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar