Sabtu, 29 Agustus 2015

Jalan Panjang

Kenapa bulan malam itu tak nampak? Padahal kita sedang mengukur jalan diatas kegelisahan.

Aku memasukkan tanganku didalam saku jaketku. Begitupun kamu.

Berdua kita seperti kehilangan arah,..
Begitu sulitkah kau melewati masamu hai dua anak muda?

Kau tertawa disampingku, tersenyum padaku, dan mulai membuka pintu supaya aku masuk. Aku memandangimu, berpikir bahwa disisimu aku bisa menghirup kabut, menggenggam malam, dan merangkum perjalanan menjadi kisah

Sebelas malam, ketika jiwa jiwa mulai masuk keperaduan..
Jiwa kita melompat menyisir aspal dikegelapan.

Itulah malam pertama kalinya aku bersandar padamu.

Kau itu kesepian, aku tahu... maka aku akan mengisi kekosongan hatimu. Terserah kau jadikan aku apa.
Sahabat, teman, kekasih, atau orang bodoh yang akan kau manfaatkan.

Kau kesepian,
Sikap introvertmu membuatku memahamimu..
Karena kita hampir serupa.

Sesungguhnya aku tengah letih menunggu,
Dan kau adalah doa yang dikabulkan Tuhan bagiku.

Sudah pagi sobat...
Lihatlah langit semburat merah...
Pedagang sudah pulang dari pasar siap menggelar dagangan di warungnya.
Kita masih terus melangkah
Apa kau tak lelah?
Disisimu aku tak kan menyerah hanya karena lelah.
Sejauh apapun kau membawaku aku akan disisimu.. tersenyum untukmu.

Hingga kau bilang, ayo kita pulang...

Masih terlalu pagi,
Mikrolet masih sepi,
Kau disisiku.. kali ini kau yang bersandar padaku.

Teruslah bersandar,
Dunia tak akan peduli terhadap kita.
Aku yang akan memahamimu, dan kalau kau mau aku yang akan menjagamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar